Laksamana Muda John Lie Ahli Navigasi Ulung Di Kapal Hitam Berbendera Merah Putih Yang Tak Pernah Bisa Ditangkap Belanda, Meskipun Dikejar Dan Di Bom Berulang Kali
Depok Safiranews 03.10 2025

Laksamana Muda John Lie (Jahja Daniel Dharma), adalah salah satu pahlawan kemerdekaan yang kisahnya sangat legendaris di lautan. Berasal dari Manado, John Lie (nama lahir Lie Tjeng Tjoan) bukanlah tentara darat, melainkan seorang ahli navigasi ulung yang ditugaskan dalam misi paling berbahaya: menembus blokade laut Belanda demi memasok senjata vital bagi Republik.
Kemerdekaan Indonesia terus dikumandangkan ke seluruh pelosok negeri bahkan hingga ke luar negeri. Berita proklamasi kemerdekaan tersebut akhirnya terdengar oleh pelaut-pelaut Maskapai Pelayaran Hindia Belanda (KPM/Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang tengah berada di Basis AL Inggris di Khoramshar, Iran, yang sedang ditugaskan sebagai bagian dari Armada Logistik Sekutu.
Seorang ABK MV Tosari, salah satu kapal KPM yang dimobilisasi Sekutu dan berada di Iran bernama John Lie. John Lie mendengar berita tersebut melalui siaran radio yang disiarkan oleh All Indian Radio (stasiun radio milik tokoh nasionalis India Jawaharlal Nehru). Saat itu, John Lie, pria kelahiran Manado 9 Maret 1911, putra kedua dari delapan bersaudara pasangan Lie Kae Tae – Oei Tjeng Nie Nio, bertugas sebagai Stuurman Kleinevaart (setingkat asisten jurumudi kapal) di MV Tosari.
Kiprahnya sebagai “penyelundup” senjata bagi Indonesia—yang dijuluki “Hantu Selat Malaka” oleh BBC—membuat Belanda frustrasi hingga ke ubun-ubun. Berikut cerita heroik sang penyelundup yang menyelamatkan eksistensi Republik Indonesia :

Kronologi Misi Maut “The Outlaw”
1. Awal Pengabdian (1946)
Pilihan Sulit: Setelah kembali dari pelatihan pelayaran logistik dan militer di Teluk Persia (selama Perang Dunia II), John Lie kembali ke Indonesia. Ia memutuskan untuk bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) di Yogyakarta dan ditugaskan di Pelabuhan Cilacap.
Tugas Perdana: Ia menerima pangkat pertamanya (Kelasi III) dan mendapat tugas awal membersihkan ranjau laut di perairan Cilacap, menunjukkan keahlian maritimnya yang luar biasa.
2. Kapal Penyelundup, “The Outlaw” (1947)
Lahirnya Legenda: John Lie dipercaya memimpin sebuah kapal cepat yang olehnya dinamai “The Outlaw” (Si Pembangkang). Kapal ini dicat hitam agar tersamarkan di malam hari dan menjadi armada utama untuk menerobos blokade laut total yang diterapkan Belanda di Selat Malaka.
Rute Maut: Dengan rute operasi yang meliputi Singapura, Port Swettenham (Malaysia), Labuan Bilik (Sumatera Utara), Bangkok, hingga New Delhi, John Lie mulai melakukan 15 kali “pelayaran maut” untuk menukar hasil bumi (karet dan komoditas) dengan senjata, amunisi, dan logistik vital.

3. Operasi Blokade Paling Nekat (1948)
Barter Senjata: Pada misi-misi krusial, John Lie berhasil menukar berton-ton karet dan teh dengan senjata api, senapan mesin, dan amunisi dari pangkalan-pangkalan asing. Tanpa pasokan dari “The Outlaw,” perlawanan di Sumatera dan Jawa mungkin akan lumpuh.
Lolos dari Kepungan: Kapal John Lie berulang kali dikejar, ditembaki meriam, dan diintai pesawat patroli Belanda. Salah satu kisah paling terkenal: saat kapal disergap kapal patroli Belanda dan dihujani tembakan meriam. Ajaibnya, tembakan Belanda selalu meleset, atau kapal musuh tiba-tiba kandas di karang, atau cuaca buruk (kabut dan badai) tiba-tiba datang menolong “The Outlaw” melarikan diri.
4. Ditangkap dan Dibebaskan (1948)
Penangkapan di Singapura: John Lie pernah ditangkap oleh polisi Inggris di Singapura saat kapalnya berlabuh. Ia dituduh melakukan penyelundupan senjata.
Kemenangan Hukum: Dalam persidangan, ia membela diri dengan gigih, menegaskan bahwa barang yang dibawanya adalah milik Republik Indonesia yang berdaulat dan untuk membela diri. Pengadilan Inggris akhirnya membebaskannya karena tuduhan tidak terbukti melanggar hukum internasional, sehingga John Lie bisa kembali berlayar.
5. Puncak Perjuangan (1949)
Pengakuan Global: Aksi heroik “The Outlaw” menarik perhatian dunia. Majalah Amerika Serikat, Life, bahkan mengangkat kisahnya dalam artikel berjudul “Guns – Bibles – Are Smuggled to Indonesia”, menguatkan citra perjuangan RI di mata internasional.
Tugas Akhir: Setelah Kedaulatan diakui, John Lie dipindahkan ke Bangkok untuk melanjutkan tugas pengadaan senjata di darat. Ia kemudian melanjutkan karir gemilangnya di TNI AL, ikut menumpas berbagai pemberontakan seperti RMS dan PRRI/Permesta.
Akhir Pengabdian
John Lie pensiun dengan pangkat Laksamana Muda dan pada tahun 1966 mengganti namanya menjadi Jahja Daniel Dharma. Atas jasanya yang “tiada taranya di Angkatan Laut” (menurut Jenderal A.H. Nasution), John Lie dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Red

